-->

Welcome!

I am John Doe Web Designer Photography

View Work Hire Me!

About Me

Web Design
Branding
Development
Who am i

John Doe.

Professional Web Designer

Nulla metus metus ullamcorper vel tincidunt sed euismod nibh Quisque volutpat condimentum velit class aptent taciti sociosqu ad litora.

Nulla metus metus ullamcorper vel tincidunt sed euismod nibh Quisque volutpat condimentum velit class aptent taciti sociosqu ad litora torquent metus metus ullamcorper vel tincidunt sed class aptent taciti sociosqu ad litora .

Services

Web Design

Nulla metus metus ullamcorper vel tincidunt sed euismod nibh Quisque volutpat

Development

Nulla metus metus ullamcorper vel tincidunt sed euismod nibh Quisque volutpat

Branding

Nulla metus metus ullamcorper vel tincidunt sed euismod nibh Quisque volutpat

Marketing

Nulla metus metus ullamcorper vel tincidunt sed euismod nibh Quisque volutpat

Our Blog

Showing posts with label Tutorial. Show all posts
Showing posts with label Tutorial. Show all posts

How to enable IPv6 on ClearOS

IPv6 (Internet Protocol version 6)

adalah protokol internet generasi baru yang menggantikan protokol versi sebelumnya (IPv4). IPv6 dikembangkan oleh Internet Engineering Task Force (IETF). Tujuan utama diciptakan IPv6 karena keterbatasan ruang alamat di IPv4 yang hanya terdiri dari 32 bit, sedangkan IPv6 terdiri dari 128 bit. 

IPv6 vs IPv4

Kelebihan IPv6 dibandingkan dengan IPv4 antara lain:
1. Ruang alamat IPv6 yang lebih besar yaitu 128 bit.
2. Pengalamatan multicast, yaitu pengiriman pesan ke beberapa alamat dalam satu group.
3. Stateless address autoconfiguration (SLAAC), IPv6 dapat membuat alamat sendiri tanpa bantuan DHCPv6.
4. Keamanan lebih bagus dengan adanya default sekuriti IPSec.
5. Pengiriman paket yang lebih sederhana dan efisien.
6. Dukungan mobilitas dengan adanya Mobile IPv6.
(wikipedia)

Pada kesempatan kali ini saya akan mengulas cara mengaktifkan IPv6 di ClearOS.
Kali ini saya menggunakan ClearOS Community release 6.6.0 (Final).
Untuk mengaktifkan IPv6 ada beberapa file yang harus dirubah, antara lain :
1. /etc/sysconfig/network
2. /etc/sysconfig/network-scripts/ifcfg-eth0 **
3. /etc/sysctl.conf

**eth0 sesuai dengan ethernet card yang ingin dienablekan IPv6nya

==============IPv6 Auto configuration==============
Dengan IPv6 Auto configuration memungkinkan PC mendapat IPv6 secara otomatis (IPv4 = DHCP)

Pertama, buka berkas /etc/sysconfig/network kemudian tambahkan baris berikut
NETWORKING_IPV6=yes
IPV6_AUTOCONF=yes
sehingga hasilnya seperti ini:

/etc/sysconfig/network
Kedua, buka berkas /etc/sysconfig/network-scripts/ifcfg-eth0 kemudian tambahkan baris berikut
IPV6INIT=yes
IPV6_AUTOCONF=yes
*eth0 sesuai dengan ethernet card yang ingin dienablekan IPv6nya
sehingga hasilnya seperti ini:
/etc/sysconfig/network-scripts/ifcfg-eth0
Ketiga, buka berkas /etc/sysctl.conf kemudian cari bagian :
 - net.ipv6.conf.all.disable_ipv6 = 1
 - net.ipv6.conf.default.disable_ipv6 = 1
ganti menjadi :
- net.ipv6.conf.all.disable_ipv6 = 0
- net.ipv6.conf.default.disable_ipv6 = 0
/etc/sysctl.conf  sebelum dirubah
/etc/sysctl.conf  setelah dirubah
Keempat, ketikkan perintah berikut di terminal :
- # sysctl -p
- # service network restart
- # ifconfig
maka hasilnya akan seperti berikut:
Sebelum mengaktifkan IPv6

Setelah mengaktifkan IPv6
Uji coba koneksi IPv6 :
ping ke DNS Server google
ping ke google.com dengan menggunakan IPv6

Pengenalan Hak Akses User pada linux

Dalam Linux, pembagian hak akses user dibedakan menjadi dua,yaitu user biasa dan super user (root).
Dengan hak akses super user, kita diperbolehkan merubah, menambah, dan menghapus file konfigurasi system yang ada. Berbeda dengan user biasa, yang memiliki hak akses terbatas.
Perbedaan antara user biasa dan super user, ditandai dengan symbol “$” dan “#” pada terminal. Untuk login ke super user, gunakan perintah su.
Catatan:
-          Saat menggunakan “su” kita menggunakan password root
-          Saat menggunakan “sudo su” kita menggunakan password user kita

agus@server:~$ whoami
agus
agus@server:~$

tampilan di atas menunjukkan kita login sebagai user biasa dan memiliki hak akses yang terbatas. Coba ketikkan perintah “apt-get update” pasti akan muncul peringatan seperti di bawah ini

agus@server:~$ apt-get update
E: Could not open lock file /var/lib/apt/lists/lock - open (13: Permission denied)
E: Unable to lock directory /var/lib/apt/lists/
E: Could not open lock file /var/lib/dpkg/lock - open (13: Permission denied)
E: Unable to lock the administration directory (/var/lib/dpkg/), are you root?
agus@server:~$

hal di atas dikarenakan user yang saat ini digunakan (agus) merupakan user biasa dan tidak boleh menjalankan perintah tersebut,coba sekarang masuk ke mode root dengan perintah “su” kemudian ulangi perintah di atas,maka perintah tersebut akan berjalan.
agus@server:~$ su
Password: (isikan password root)
root@server:/home/agus#apt-get update
Ign cdrom://[Debian GNU/Linux 7.1.0 _Wheezy_ - Official i386 DVD Binary-1 20130615-21:54] wheezy Release.gpg
Ign cdrom://[Debian GNU/Linux 7.1.0 _Wheezy_ - Official i386 DVD Binary-1 20130615-21:54] wheezy Release
Ign cdrom://[Debian GNU/Linux 7.1.0 _Wheezy_ - Official i386 DVD Binary-1 20130615-21:54] wheezy/contrib i386 Packages/DiffIndex
Ign cdrom://[Debian GNU/Linux 7.1.0 _Wheezy_ - Official i386 DVD Binary-1 20130615-
Reading package lists... Done
…

root@server:/home/agus#

Pengertian IPTABLES dan NAT


A. IPTABLES

Iptables adalah suatu tools dalam sistem operasi linux yang berfungsi sebagai alat untuk melakukan filter (penyaringan) terhadap (trafic) lalulintas data. Secara sederhana digambarkan sebagai pengatur lalulintas data. Dengan iptables inilah kita akan mengatur semua lalulintas dalam komputer kita, baik yang masuk ke komputer, keluar dari komputer, ataupun traffic yang sekedar melewati komputer kita.


membahas prinsip dasar firewall iptables, mengelola akses

internet berdasarkan alamat IP,port aplikasi dan MAC address. Firewall IPTables packet filtering memiliki tiga aturan (policy), yaitu:

- INPUT
Mengatur paket data yang memasuki firewall dari arah intranet maupun internet. kita bisa mengelolakomputer mana saja yang bisa mengakses firewall. misal: hanya komputer IP 192.168.1.100 yang bisa SSHke firewall dan yang lain tidak boleh.

- OUTPUT
Mengatur paket data yang keluar dari firewall ke arah intranet maupun internet. Biasanya output tidak diset,karena bisa membatasi kemampuan firewall itu sendiri.

- FORWARD
Mengatur paket data yang melintasi firewall dari arah internet ke intranet maupun sebaliknya. Policy forward paling banyak dipakai saat ini untuk mengatur koneksi internet berdasarkan port, mac address dan alamat IP Selain aturan (policy) firewall iptables juga mempunyai parameter yang disebut dengan TARGET, yaitu status yang menentukkan koneksi di iptables diizinkan lewat atau tidak. TARGET ada tiga macam yaitu:

a. ACCEPT
Akses diterima dan diizinkan melewati firewall

b. REJECT
Akses ditolak, koneksi dari komputer klien yang melewati firewall langsung terputus, biasanya terdapatpesan “Connection Refused”. Target Reject tidak menghabiskan bandwidth internet karena akses langsung ditolak, hal ini berbeda dengan DROP.

DROP
Akses diterima tetapi paket data langsung dibuang oleh kernel, sehingga pengguna tidak mengetahui kalau koneksinya dibatasi oleh firewall, pengguna melihat seakan – akan server yang dihubungi mengalami permasalahan teknis. Pada koneksi internet yang sibuk dengan trafik tinggi Target Drop sebaiknya jangan digunakan.

Berikut ini contoh penggunaan firewall iptables untuk mengelolak akses internet.

Policy INPUT

IP Firewall = 192.168.1.1
IP Administrator = 192.168.1.100
IP Umum = 192.168.1.200

1. Membatasi port number

iptables -A INPUT -i eth1 -s 192.168.1.200 -d 192.168.1.1 -p tcp -dport 22-j REJECT

Contoh di atas melarang komputer klien dengan IP 192.168.1.200 mengakses port 22 (ssh) firewall yang memiliki IP 192.168.1.1

Policy FORWARD

1. Membatasi orang mengakses port aplikasi P2P (Limewire, GnuTella & Bearshare)

iptables -A FORWARD -p tcp -dport 6340:6350 -j REJECT


iptables -A FORWARD -p -dport 6340:6350 -j REJECT

-p tcp (koneksi menggunakan protokol TCP)
-p udp (koneksi menggunakan protokol UDP)
-dport 6340:6350 (melarang akses port 6340 sampai dengan 6350)

2. Membatasi koneksi satu alamat IP

iptables -A FORWARD -s 192.168.1.99 -d 0/0 -j REJECT

-d 0/0 berarti ke semua tujuan

3. Membatasi koneksi berdasarkan range IP

iptables -A FORWARD -m iprange -src-range 192.168.1.100-192.168.1.150 -d 0/0 -j REJECT

4. Membatasi koneksi internet berdasarkan MAC Address

iptables -A FORWARD -m mac -mac-source 00:30:18:AC:14:41 -d 0/0 -j REJECT

B. NAT (Network Address Translation)

Pada bagian ini kita membahas mengenai Network Address Translation, biasa disebut dengan NAT. Fungsi utama dari NAT adalah untuk melakukan translasi alamat dari satu alamat ke alamat IP yang lain, biasanya dipakai pada internet gateway. Selain melakukan translasi alamat IP, iptables juga bisa melakukan NAT alamat Port aplikasi, bisa disebut juga dengan Port Address Translation (PAT). PAT digunakan untuk membangun beberapa server seperti mail, web, database maupun datacenter yang diakses melalui internet hanya dengan satu alamat IP publik.

Tabel NAT

Selain sebagai IP Filtering / Firewall, iptables juga bisa difungsikan untuk translasi alamat, ditandai dengan opsi -t nat pada perintah iptables.

iptables -t nat ..

prinsip dasar NAT di bagi menjadi dua bagian, yang pertama adalah POSTROUTING, yaitu melakukan NAT paket data yang keluar dari firewall, kebanyakan postrouting dipakai untuk translasi alamat IP.

Yang kedua adalah PREROUTING, untuk melakukan NAT paket data yang memasuki firewall, kebanyakan digunakan untuk transparency proxy server dan membangun beberapa server dengan satu IP publik.

1. POSTROUTING
Translasi alamat yang keluar dari firewall, berarti kita melihat paket data yang keluar dari kartu LAN.

iptables -t NAT -A POSTROUTING -o eth0 -s 192.168.1.0/24 -d 0/0 -j SNAT -to 202.154.6.55

iptables -t NAT -A POSTROUTING -o eth0 -s 192.168.1.0/24 -d 0/0 -j MASQUERADE

contoh diatas berarti jaringan subnet 192.168.1.0/24 jika menghubungi web server yang berada di internet dikenali dari IP 202.154.6.55. Target MASQUERADE berarti IP NAT disesuaikan dengan alamat IP kartu LAN eth0, jika IP eth0 dirubah kita tidak perlu merubah settingan iptables.

2. PREROUTING
Translasi alamat yang memasuki kartu jaringan, kita juga bisa membelokkan paket data ke port tertentu untuk membangun server internet hanya dengan satu IP publik.

iptables -t nat -A PREROUTING – eth0 -p tcp -dport 25 -j DNAT -to 192.168.1.20:25

iptables -t nat -A PREROUTING – eth0 -p tcp -dport 110 -j DNAT -to 192.168.1.20:110

iptables -t nat -A PREROUTING – eth0 -p tcp -dport 80 -j DNAT -to 192.168.1.30:80

Pada contoh diatas kita mempunyai 2 server, 192.168.1.20 (mail server) dan 192.168.1.30 (web server). Koneksi dari internet ke port 25 dan 110 secara otomatis diarahkan ke alamat IP 192.168.1.20 (IP Lokal / LAN). Akses port 80 (web server) diarahkan ke IP lokal 192.168.1.30

List NAT

Untuk melihat NAT yang baru saja kita setting menggunakan perintah:

iptables -t nat -L -v

[root@rinocomp]# iptables -t nat -L -v


Chain PREROUTING (policy ACCEPT 1833K packets, 141M bytes)


pkts bytes target prot opt in out source destination


199K 9636K REDIRECT tcp – eth2 any anywhere anywhere tcp dpt:http redir ports 3128


0 0 REDIRECT tcp-eth1 any anywhere anywhere tcp dpt:36 redir ports 10000


0 0 REDIRECT tcp-eth1 any anywhere anywhere tcp dpt:time redir ports 20000


0 0 DNAT tcp-eth1 any anywhere anywhere tcp dpt:33 to:192.168.1.100:22



Menghapus NAT

# iptables -t nat -F

# iptables -t nat -F

Contact Us

Phone :

+20 010 2517 8918

Address :

3rd Avenue, Upper East Side,
San Francisco

Email :

email_support@youradress.com


Your IP Location

Recent

Loading...